STAFMEDIA.MY.ID - Sebagai
seorang muslim upaya menjaga ketakwaan kepada Allah merupakan suatu keharusan.
Hanya saja, manusia itu merupakan makhluk yang lemah dan penuh keterbatasan.
Tidak cukup rasaanya hanya bergantung pada dirinya.
Sekuat
apapun upaya manusia, tentu masih memerlukan pertolongan sang maha kuasa yaitu
Allah swt. Termasuk soal petunjuk dan
ketakwaan kepada Allah.
Oleh
karena itu, Rasulullah saw sebagai manusia yang paling bertakwa mengajarkan
sebuah doa. Doa tentang permohon petunjuk, ketakwaan, al-'afaaf, dan al-ghinaa.
Adapun bunyinya sebagai berikut:
اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى
، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى
“Allahumma
inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.”
Artinya:
Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaaf
dan ghinaa.[1]
Dari
doa yang diajarkan Rasulullah saw di atas. Ada beberapa faedah yang bisa kita
ambil pelajaran. Terutama agar kita bisa lebih memahami makna dari doa
tersebut:
Pertama, Al-Huda (memohon petunjuk) adalah memohon petunjuk jalan
yang lurus. Yaitu jalan yang Allah beri nikmat. Sebagaimana firman Allah:
دِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ. صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Artinya:
Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah
Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan
(pula jalan) mereka yang sesat.[2]
Kedua, makna Takwa. Dimana kata takwa memiliki arti menjalankan perintah
Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sehingga doa ini menjadi permohon
seorang hamba agar selalu bertakwa kepada-Nya.
Ketiga, Menurut Imam An-Nawawi dalam kitab syarah Muslim menjelaskan
bahwa ‘afaaf atau ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri
dari yang diharamkan. Sedangkan Al-Ghinaa merupakan sikap kaya hati (merasa
cukup) dan tidak butuh atas apa yang dimiliki manusia.
An
Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “ ’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan
menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati
yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.”[3]
Rasulullah
menegaskan bahwa al-ghinaa bukanlah kaya harta. Melainkan kaya hati,
yaitu selalu merasa cukup ketika Allah berikan banyak atau sedikit harta.
لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ
وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ
“Kekayaan
(yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki)
adalah hati yang selalu merasa cukup.”[4]
Keempat, Sunnah merutinkan membaca doa tersebut.
Oleh: Waskito Hartono, S.Th.i
Anggota Majelis Tabligh PCM Banjarsari dan Pengajar di Pondok Pesantren At-Tajdid Banjarsari



