Iklan

Doa Memohon Petunjuk Ketakwaan dan Qona’ah

Admin Sambil Ngaji
Sabtu, 05 Agustus 2023, Agustus 05, 2023 WIB Last Updated 2023-08-14T07:21:07Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


STAFMEDIA.MY.ID - Sebagai seorang muslim upaya menjaga ketakwaan kepada Allah merupakan suatu keharusan. Hanya saja, manusia itu merupakan makhluk yang lemah dan penuh keterbatasan. Tidak cukup rasaanya hanya bergantung pada dirinya.

Sekuat apapun upaya manusia, tentu masih memerlukan pertolongan sang maha kuasa yaitu Allah swt.  Termasuk soal petunjuk dan ketakwaan kepada Allah.

Oleh karena itu, Rasulullah saw sebagai manusia yang paling bertakwa mengajarkan sebuah doa. Doa tentang permohon petunjuk, ketakwaan, al-'afaaf, dan al-ghinaa. Adapun bunyinya sebagai berikut:

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.”

Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaaf dan ghinaa.[1]

Dari doa yang diajarkan Rasulullah saw di atas. Ada beberapa faedah yang bisa kita ambil pelajaran. Terutama agar kita bisa lebih memahami makna dari doa tersebut:

 

Pertama, Al-Huda (memohon petunjuk) adalah memohon petunjuk jalan yang lurus. Yaitu jalan yang Allah beri nikmat. Sebagaimana firman Allah:

دِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ.  صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ

Artinya: Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.[2]

Kedua, makna Takwa. Dimana kata takwa memiliki arti menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sehingga doa ini menjadi permohon seorang hamba agar selalu bertakwa kepada-Nya.

Ketiga, Menurut Imam An-Nawawi dalam kitab syarah Muslim menjelaskan bahwa ‘afaaf atau ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari yang diharamkan. Sedangkan Al-Ghinaa merupakan sikap kaya hati (merasa cukup) dan tidak butuh atas apa yang dimiliki manusia.

An Nawawi –rahimahullah- mengatakan, “ ’Afaf dan ‘iffah bermakna menjauhkan dan menahan diri dari hal yang tidak diperbolehkan. Sedangkan al ghina adalah hati yang selalu merasa cukup dan tidak butuh pada apa yang ada di sisi manusia.[3]

Rasulullah menegaskan bahwa al-ghinaa bukanlah kaya harta. Melainkan kaya hati, yaitu selalu merasa cukup ketika Allah berikan banyak atau sedikit harta.

لَيْسَ الْغِنَى عَنْ كَثْرَةِ الْعَرَضِ وَلَكِنَّ الْغِنَى غِنَى النَّفْسِ

“Kekayaan (yang hakiki) bukanlah dengan banyaknya harta. Namun kekayaan (yang hakiki) adalah hati yang selalu merasa cukup.”[4]

Keempat, Sunnah merutinkan membaca doa tersebut.


Oleh:  Waskito Hartono, S.Th.i

Anggota Majelis Tabligh PCM Banjarsari dan Pengajar di Pondok Pesantren At-Tajdid Banjarsari



[1] HR. Muslim, Kitab Riyadus Shalihin hadis no 71 hal 39.

[2] QS. Al-Fatihah: 6-7.

[3] Imam An_Nawawi, Kitab Shahih Bisyahri An-Nawawi, vol 17 hal 41.

[4] HR. Muslim, Kitab Riyadus Shalihin hadis no 522 hal 162.

Komentar

Tampilkan

Terkini

NamaLabel

+