Iklan

Mentauhidkan Allah dengan Ibadah

Admin Sambil Ngaji
Jumat, 25 Agustus 2023, Agustus 25, 2023 WIB Last Updated 2023-08-26T03:22:50Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


STAFMEDIA.MY.ID - Salah satutujuan dari penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah swt. Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Aż- Żāriyāt(51): 56).

Ayat di atas secara gamblang menjelaskan bahwa tujuan diciptakan jin dan manusia adalah beribadah kepada Allah. Tinggal, kita pahami bersama keterkaitan antara Ibadah dan tauhid itu terletak pada hakikat.

Dimana menurut pengarang Kitab At-Tauhid bahwa hakekat atau inti dari ibadah itu adalah tauhid (meng-Esakan Allah). Hal ini beliau dasarkan pada pertentangan antara Nabi Muhammad saw dan kaum musyrikin. (Kitāb At-Tauḥīd, hal 10).

Dimana pertentangan Rasulullah saw dan kaum musyrikin itu soal Ibadah (penyembahan kepada Allah). Rasulullah menyerukan bahwa ibadah itu hanya kepada Allah. Sedangkan kaum musyrikin mmpertahnkan ibadah kepada berhala-berhala ciptaan mereka.

Oleh karena itu, ketika seseorang tidak merealisasikan tauhid ini, tentu dia juga bisa dikatakan belum beribadah kepada Allah. Maka disinilah makna kata ibadah dalam firman Allah swt berikut ini:

وَلَآ أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ

Artinya: "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah." (QS. Al-Kāfirūn (109): 3).

Makna Ibadah

Adapun makna ibadah secara bahasa menurut Al-Qurthubi yaitu At-Tażalul (merendahkan diri) dan Al-Huḍū' (Tunduk). (Fatḥul Majīd, hal 17).

Sedangkan secara istilah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Ibadah adalah Taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya melalui lisan para Rasul.

Kemudian Syaikhul Islam juga menambahkan soal definisi Ibadah sebelumnya. Dimana Ibadah adalah istilah yang mencakup keseluruhan apa yang dicintai dan diridhai Allah dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Baik itu secara zahir atau batin (Fatḥul Majīd, hal 17).

Dua Syarat Diterimanya Amal

Berangkat dari definisi dari Syaikh Ibnu Taimiyah tersebut. Setidaknya hal itu bisa mengantarkan kita kepada dua syarat diterimanya Ibadah. Sehingga kedua syarat tersebut harus kita perhatikan dengan baik. Khususnya, bila ingin amalan kita di terima oleh Allah swt. Adapun dua syarat yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Beribadah Ikhlas karena Allah

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah (98): 5).

Hadis Rasulullah SAW dari ‘Umar bin Al Khattab:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

 

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

2. Sesuai dengan Tuntunan dalam Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad saw

Sabda Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa membuat perkara baru dalan agama (khususnya Ibadah mahdhah) tentu akan tertolak. Sebagaimana dalam hadisnya sebagai berikut:

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR. Bukhari no 2967 dan Muslim no 1718)

Begitu juga dalam sabda Nabi yang lain:

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Artinya: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami, maka amalan tersebut tertolak.” (HR. Muslim no 1718).

Doa Agar Amal Ibadah Diterima Allah

Sekali lagi, hakekat Ibadah adalah memtauhidkan Allah swt. Sedangkan segala ibadah harus dikembalikan sesuai dengan ketentuan dan keridhoan-Nya. Termasuk berkenaan dengan diterima dan ditolaknya ibadah kita itu tergantung dengan kehendak Allah swt.

Oleh karena itu, maka marilah kita amalkan sebuah doa. Yaitu doa yangRaslullah saw ajarkan dan rutinkandi setiap pagi menjelang beraktifitas:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Artinya: "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Mājah no 952 dan Abū Dāwud no 1710).

Komentar

Tampilkan

Terkini

NamaLabel

+