STAFMEDIA.MY.ID - Salah satutujuan dari penciptaan manusia adalah beribadah kepada Allah swt. Hal ini sebagaimana tertuang dalam firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ
الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
Artinya: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan
supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Aż- Żāriyāt(51): 56).
Ayat di atas secara gamblang menjelaskan bahwa tujuan diciptakan
jin dan manusia adalah beribadah kepada Allah. Tinggal, kita pahami bersama keterkaitan
antara Ibadah dan tauhid itu terletak pada hakikat.
Dimana menurut pengarang Kitab At-Tauhid bahwa hakekat atau inti
dari ibadah itu adalah tauhid (meng-Esakan Allah). Hal ini beliau dasarkan pada
pertentangan antara Nabi Muhammad saw dan kaum musyrikin. (Kitāb At-Tauḥīd,
hal 10).
Dimana pertentangan Rasulullah saw dan kaum musyrikin itu soal
Ibadah (penyembahan kepada Allah). Rasulullah menyerukan bahwa ibadah itu hanya
kepada Allah. Sedangkan kaum musyrikin mmpertahnkan ibadah kepada
berhala-berhala ciptaan mereka.
Oleh karena itu, ketika seseorang tidak merealisasikan tauhid ini,
tentu dia juga bisa dikatakan belum beribadah kepada Allah. Maka disinilah
makna kata ibadah dalam firman Allah swt berikut ini:
وَلَآ
أَنتُمْ عَٰبِدُونَ مَآ أَعْبُدُ
Artinya: "Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku
sembah." (QS. Al-Kāfirūn (109): 3).
Makna Ibadah
Adapun makna ibadah secara bahasa menurut Al-Qurthubi yaitu At-Tażalul
(merendahkan diri) dan Al-Huḍū' (Tunduk). (Fatḥul Majīd, hal 17).
Sedangkan secara istilah menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah,
Ibadah adalah Taat kepada Allah dengan menjalankan apa yang diperintahkan-Nya
melalui lisan para Rasul.
Kemudian Syaikhul Islam juga menambahkan soal definisi Ibadah sebelumnya.
Dimana Ibadah adalah istilah yang mencakup keseluruhan apa yang dicintai dan
diridhai Allah dalam bentuk perkataan atau perbuatan. Baik itu secara zahir
atau batin (Fatḥul Majīd, hal 17).
Dua Syarat Diterimanya Amal
Berangkat dari definisi dari Syaikh Ibnu Taimiyah tersebut.
Setidaknya hal itu bisa mengantarkan kita kepada dua syarat diterimanya Ibadah.
Sehingga kedua syarat tersebut harus kita perhatikan dengan baik. Khususnya,
bila ingin amalan kita di terima oleh Allah swt. Adapun dua syarat yang
dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Beribadah Ikhlas karena Allah
وَمَآ
أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ
وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ
Artinya: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah
Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang
lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang
demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah (98): 5).
Hadis Rasulullah SAW dari ‘Umar bin Al Khattab:
إِنَّمَا
الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niatnya.” (HR. Bukhari
no. 1 dan Muslim no. 1907).
2. Sesuai dengan Tuntunan dalam Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad
saw
Sabda Nabi Muhammad saw menegaskan bahwa membuat perkara baru dalan
agama (khususnya Ibadah mahdhah) tentu akan tertolak. Sebagaimana dalam
hadisnya sebagai berikut:
مَنْ
أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam agama
kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak.” (HR.
Bukhari no 2967 dan Muslim no 1718)
Begitu juga dalam sabda Nabi yang lain:
مَنْ
عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ
Artinya: “Barangsiapa melakukan suatu amalan yang bukan ajaran kami,
maka amalan tersebut tertolak.”
(HR. Muslim no 1718).
Doa Agar Amal Ibadah Diterima Allah
Sekali lagi, hakekat Ibadah adalah memtauhidkan Allah swt. Sedangkan
segala ibadah harus dikembalikan sesuai dengan ketentuan dan keridhoan-Nya. Termasuk
berkenaan dengan diterima dan ditolaknya ibadah kita itu tergantung dengan
kehendak Allah swt.
Oleh karena itu, maka marilah kita amalkan sebuah doa. Yaitu doa
yangRaslullah saw ajarkan dan rutinkandi setiap pagi menjelang beraktifitas:
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا
Artinya: "Ya Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu ilmu yang
bermanfaat (bagi diriku dan orang lain), rizki yang halal dan amal yang
diterima (di sisi-Mu dan mendapatkan ganjaran yang baik).” (HR. Ibnu Mājah
no 952 dan Abū Dāwud no 1710).


