STAFMEDIA.MY.ID - Gangguan dan ketenangan dalam menjalani kehidupan itu sejatinya berpangkal dari kita sendiri. Maka, cara pandang yang membuat hidup itu tidak terasa bahagia tentu harus dikilis.
Salah satu cara pandang yang
dimaksud haru dikikis adalah merasa paling berjasa. Dimana merasa paling
berjasa itu layaknya kanker, bila dibiarkan bisa merusak kemana-mana.
Apalagi bila perasaan paling berjasa
itu muncul ditengah suatu lembaga. Selain akan merusak keikhlasan, tentu akan
merusak persaudaraan. Sederhananya, orang yang merasa paling berjasa itu
pastinya akan menegasikan kontribusi orang lain. Bahkan akhirnya menimbulkan
narasi dalam benak sendiri bahwa dirinya adalah orang yang paling dibutuhkan.
Sehingga, untuk jangka panjang tentu
akan berbahaya. Kanker tersebut jelas akan membuat penderita menjadi pribadi yang
toxic. Untuk itu, bila kita merasa punya perasaan diri ini adalah orang yang
paling berjasa. Maka fokuslah, kembali lagikepada jalur perjuangan untuk
menghasilkan kemajuan. Tinggalkanlah, segala upaya dalam menuntut penghormatan
atau tuntutan yang tidak sesuai porsinya.
Ingatlah, berprestasi merupakan
suatu kewajiban. Hanya saja, prestasi itu sejatinya adalah anugerah dari Allah
swt. Biarlah kita fokus berupaya sampai titik darah penghabisan. Serta berharap
balasan di dunia dan akhirat dari Allah semata.
Tidak perlu ngeklaim yang sejatinya
anugerah dari sang pencipta. Apalagi ngeklaim prestasi bersama sebagai prestasi
pribadi. Sebab itu akan menurunkan nilai kita.
Biarlah Allah yang menggerakan hati
manusia untuk mengakui sumbangsih kita. Tetap nikmati perjuangan, sebab tantang
semakin berat.
Mari belajar dari hadis Rasulullah
saw. Tetap menyadari dan mengembalikan segala kebaikan itu kepada Allah swt.
Adapaun hadis yang dimaksud sebagai
berikut:
Al-Barra’ ra berkata,
كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ
بَطْنِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا
وَلَا صَلَّيْنَا
Artinya: “Ketika terjadi perang
Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut bersama-sama dengan kami
mengangkat tanah. Sehingga perut putih beliau menjadi kotor karena tanah.
Beliau pun bersenandung, “Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tidaklah
kami mendapatkan petunjuk, tidaklah kami bersedekah, dan tidaklah kami
mendirikan shalat.“ (HR. Bukhari no. 4104 dan Muslim no. 1803).


