Iklan

Bahagia dengan Tidak Merasa Paling Berjasa

Admin Sambil Ngaji
Kamis, 07 Desember 2023, Desember 07, 2023 WIB Last Updated 2023-12-20T23:17:49Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini



STAFMEDIA.MY.ID
- Gangguan dan ketenangan dalam menjalani kehidupan itu sejatinya berpangkal dari kita sendiri. Maka, cara pandang yang membuat hidup itu tidak terasa bahagia tentu harus dikilis.

 

Salah satu cara pandang yang dimaksud haru dikikis adalah merasa paling berjasa. Dimana merasa paling berjasa itu layaknya kanker, bila dibiarkan bisa merusak kemana-mana.

 

Apalagi bila perasaan paling berjasa itu muncul ditengah suatu lembaga. Selain akan merusak keikhlasan, tentu akan merusak persaudaraan. Sederhananya, orang yang merasa paling berjasa itu pastinya akan menegasikan kontribusi orang lain. Bahkan akhirnya menimbulkan narasi dalam benak sendiri bahwa dirinya adalah orang yang paling dibutuhkan.

 

Sehingga, untuk jangka panjang tentu akan berbahaya. Kanker tersebut jelas akan membuat penderita menjadi pribadi yang toxic. Untuk itu, bila kita merasa punya perasaan diri ini adalah orang yang paling berjasa. Maka fokuslah, kembali lagikepada jalur perjuangan untuk menghasilkan kemajuan. Tinggalkanlah, segala upaya dalam menuntut penghormatan atau tuntutan yang tidak sesuai porsinya.

 

Ingatlah, berprestasi merupakan suatu kewajiban. Hanya saja, prestasi itu sejatinya adalah anugerah dari Allah swt. Biarlah kita fokus berupaya sampai titik darah penghabisan. Serta berharap balasan di dunia dan akhirat dari Allah semata.

 

Tidak perlu ngeklaim yang sejatinya anugerah dari sang pencipta. Apalagi ngeklaim prestasi bersama sebagai prestasi pribadi. Sebab itu akan menurunkan nilai kita.

 

Biarlah Allah yang menggerakan hati manusia untuk mengakui sumbangsih kita. Tetap nikmati perjuangan, sebab tantang semakin berat.

 

Mari belajar dari hadis Rasulullah saw. Tetap menyadari dan mengembalikan segala kebaikan itu kepada Allah swt.

Adapaun hadis yang dimaksud sebagai berikut:

 

Al-Barra’ ra berkata,

 

كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْأَحْزَابِ يَنْقُلُ مَعَنَا التُّرَابَ، وَلَقَدْ وَارَى التُّرَابُ بَيَاضَ بَطْنِهِ، وَهُوَ يَقُولُ: وَاللهِ لَوْلَا أَنْتَ مَا اهْتَدَيْنَا، وَلَا تَصَدَّقْنَا وَلَا صَلَّيْنَا

 

Artinya: “Ketika terjadi perang Ahzab, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam turut bersama-sama dengan kami mengangkat tanah. Sehingga perut putih beliau menjadi kotor karena tanah. Beliau pun bersenandung, “Ya Allah, sekiranya bukan karena Engkau, tidaklah kami mendapatkan petunjuk, tidaklah kami bersedekah, dan tidaklah kami mendirikan shalat.“ (HR. Bukhari no. 4104 dan Muslim no. 1803).

Komentar

Tampilkan

Terkini

NamaLabel

+